Anak Usia 12 Tahun Kebawah Tidak BolehDipidana

Avatar

- Redaksi

Senin, 22 September 2025 - 09:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anak Usia 12 Tahun Kebawah Tidak BolehDipidana

Oleh : Ilham Kurniadi, S.Tr.PAS., S.A.P.

Kasubsi Bimkemas BKA Balai Pemasyarakatan Kelas I Jambi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

JAMBI – Perdebatan masyarakat Indonesia mengenai usiaanak yang dapat dipidana masih menjadi topikpenting dalam sistem hukum Indonesia. Pertanyaanyang sering muncul adalah apakah anak usia 12 tahun bisa dikenai hukuman jika melakukan tindakpidana? Menurut hukum Indonesia, anak yang belumberusia 12 tahun tidak boleh dikenai pidana.

Ketentuan ini tertulis dalam Undang-Undang Nomor11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak(UU SPPA). Pasal 21 ayat (1) menyatakan, jika anakyang belum genap 12 tahun melakukan atau didugamelakukan tindak pidana, maka penyidik, pembimbing kemasyarakatan, dan pekerja sosialprofesional akan berdiskusi bersama. Mereka akanmemutuskan apakah anak tersebut kembali ke orang tua atau wali, atau ditempatkan dalam program pembinaan di instansi pemerintah atau lembaga yang berwenang, dan waktu maksimal pembinaanterhadap anak tersebut yakni enam bulan. Keputusan ini harus diserahkan ke pengadilan dalam waktupaling lama tiga hari untuk diperkuat secara resmi.

Ketentuan ini juga dijelaskan dalam PeraturanPemerintah Nomor 65 Tahun 2015 tentang PedomanPelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak yang Belum Berusia 12 Tahun. PP ini sebagai panduanbagi aparat penegak hukum, pekerja sosial, dan pembimbing kemasyarakatan dalam menangani anakberusia di bawah 12 tahun. Dalam PP tersebut jelasmenyatakan bahwa anak yang belum mencapai usiapertanggungjawaban pidana harus dilindungi denganpendekatan sosial, bukan dikenai hukuman pidana.

Hal ini didukung oleh berbagai peraturan hukum, baiknasional maupun internasional, yang menegaskankomitmen negara untuk melindungi anak, termasukanak yang berkonflik dengan hukum. Di tingkatnasional, hal ini sesuai dengan Undang-UndangNomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anakyang berfungsi sebagai aturan teknis. Lebih lanjut, halini berlandaskan pada amanat konstitusi dalam Pasal28B ayat (2) UUD 1945 yang menjamin hak anak ataskelangsungan hidup, pertumbuhan, perlindungan, serta bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Terbaruini, dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP yang baru juga mengatur mengenai hal tersebut, dalam Pasal 40 dijelaskan bahwa anak yang pada saat melakukan tindak pidana belum berumur 12 tahun tidak dapat dikenakan pertanggungjawabanpidana. Ketentuan ini merupakan suatu alasanpemaaf yang membebaskan pelaku dari sanksipidana, dengan mempertimbangkan kematanganemosional, intelektual, dan mental anak yang belumcukup untuk memikul tanggung jawab pidana.

Di tingkat internasional, komitmen Indonesia tercermin dalam ratifikasi Konvensi Hak Anak melaluiKeputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. Ratifikasiini secara resmi mengikat negara untuk menerapkanprinsip kepentingan terbaik anak sebagaipertimbangan utama dalam semua kebijakan dan pengambilan keputusan terkait anak.

Dari sudut pandang psikologis, anak usia 12 tahunmasih dalam tahap perkembangan mental dan emosional. Mereka belum mampu sepenuhnyamemahami akibat hukum dari tindakan mereka. Jadi, memberi hukuman pidana pada usia ini justru bisamenyebabkan trauma yang berdampak negatif pada masa depan mereka.

Dari sisi sosial, memberi hukuman pada anak lebihbanyak membawa dampak buruk daripada manfaat.Anak yang pernah dipenjara sering kali mengalamistigma negatif di masyarakat. Mereka kesulitanmelanjutkan sekolah, diterima di lingkungan sosial, dan bahkan berisiko melakukan tindakan kriminal lagiakibat pengaruh buruk dari pengalaman kriminalsejak kecil.

Sebaliknya, pendekatan keadilan restoratif sepertiyang diatur dalam Pasal 5 UU SPPA, fokus pada pemulihan kondisi, bukan semata-mata pembalasan.Penyelesaian kasus anak dilakukan melalui dialog antara pelaku, korban, dan masyarakat. Tujuannyaagar anak memahami kesalahan mereka, memintamaaf, serta memperbaiki kerugian. Pendekatan inilebih efektif untuk meningkatkan kesadaran hukumdan mencegah tindakan kriminal yang berulang.

Beberapa orang berpendapat bahwa anak di bawah12 tahun yang melakukan tindak pidana berat, sepertipembunuhan atau pencabulan, harus diberi hukumantegas. Namun, dalam hal ini, peran PP 65 Tahun 2015 menjadi penting. PP tersebut menyediakanmekanisme “tindakan” (maatregel) sebagai alternatif. Bentuk tindakan ini antara lain menyerahkan anak keorang tua atau wali, atau mengikutsertakan anakdalam program pendidikan, bimbingan, dan pembinaan di instansi pemerintah atau lembagakesejahteraan sosial, dengan durasi maksimal enambulan. Dengan cara ini, kepentingan korban tetapdijaga, tetapi hak anak untuk dibina dan dilindungitetap terjaga.

Prinsipnya adalah bahwa tujuan hukum pidana bukanhanya menghukum, tetapi juga mencegah kejahatandan membina pelaku. Jika anak usia dini dihukumlangsung, negara gagal menjalankan fungsipembinaan. Anak bukanlah ancaman, melainkangenerasi yang bisa diarahkan ke jalan yang lebihbaik.

Dengan demikian, larangan memberi hukumanpidana kepada anak di bawah usia 12 tahun bukanlahbentuk pembiaran, tetapi strategi perlindungan hukumyang bertujuan mengamankan masa depan bangsa.Perlindungan ini menjamin anak yang terlibatmasalah hukum tetap bisa tumbuh, berkembang, dan memperbaiki diri.

Keberadaan Pasal 28B ayat (2) UUD 1945, UU SPPA, UU Perlindungan Anak, PP 65 Tahun 2015, serta ratifikasi Konvensi Hak Anak menunjukkanbahwa Indonesia konsisten menghargai hak anak.Mencegah pemidanaan anak usia 12 tahun bukansekadar aturan hukum, melainkan bentuk komitmenbangsa untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik. Anak adalah aset bangsa, dan merekatidak boleh kehilangan masa depan hanya karenasatu kesalahan.

Berita Terkait

Polisi Bersama Masyarakat, Kapolresta Jambi Turun ke Jalan Atur Lalu Lintas dan Bagikan Masker ke Pengendara
H. Asikin Hadiri Yasinan di Rumah Duka Pimdes Golkar Kebun 9
Ikhtiar di Tengah Kabut Asap, Pelindo Jambi Ikuti Sholat Istisqo Bersama Masyarakat Muaro Jambi
Wali Kota Maulana Lepas Kontingen Pramuka Kota Jambi ke Jambore Daerah 2026
Sambut Hari Bayangkara ke 80 Tahun 2026, Polda Jambi Gelar Kegiatan Bakti Religi di Tempat Ibadah
Apel Siaga Darurat Karhutla 2026, Polda Jambi Siap Perkuat Sinergi Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan
Hutama Karya Pantau Trafik Jalan Tol Trans Sumatera Selama Libur Panjang Idul Adha, Waisak, dan Hari Lahir Pancasila Periode 26 Mei 2026
PWI Kota Jambi dan Polda Jambi Perkuat Sinergi Hadapi Era Digitalisasi, Dorong Wartawan Kompeten dan Adaptif
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 17:13 WIB

New Honda Genio Tampil Kalcer Makin Retro dengan Warna Baru

Rabu, 4 November 2026 - 16:49 WIB

Kapolda Jambi Ajak Masyarakat Danau Sipin Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas dan Lindungi Generasi Muda

Rabu, 4 November 2026 - 16:27 WIB

Kapolda Jambi Terima Audiensi PTPN IV Regional IV, Perkuat Sinergi Jaga Keamanan Lingkungan Perusahaan

Rabu, 4 November 2026 - 15:22 WIB

Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas, Kapolres Muaro Jambi Berkumpul bersama Warga

Rabu, 4 November 2026 - 12:57 WIB

Danrem 042/Gapu Pimpin Sertijab Kasi Intel Kasrem 042/Gapu dan Komandan Kodim 0420/Sarko

Selasa, 3 November 2026 - 09:38 WIB

Resmi Dilantik, Ketua News Room Jaga Desa SMSI Jambi Mukhtadi: Media Punya Tanggung Jawab Merawat Desa

Minggu, 1 November 2026 - 16:24 WIB

BNN Kota Jambi Inisiasi Pembentukan Tim Terpadu P4GN, Walikota Jambi Kukuhkan Kepala BNN Kota sebagai Ketua TIM

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:29 WIB

KRYD Polda Jambi Jajaran Ungkap 41 Kasus Curanmor, 41 Unit Kendaraan Berhasil Diamankan dan 11 Tersangka Ditangkap

Berita Terbaru