Polda Jambi Terima Audiensi Kakanwil HAM, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum Berbasis HAM Polda Jambi Perkuat Sinergi dengan Bank Mandiri Jambi dalam Pengamanan Sektor Perbankan Yello Hotel Jambi Peduli Lingkungan Gelar Aksi Word Clean Up Day di Gentala ARASY Pelaku Pembakaran Lahan Ditangkap, Kapolres Sarolangun: Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara Komplotan Pencurian Minyak Kondensat PT Pertamina Dibekuk Ditreskrimum Polda Jambi 

Home / Berita / Infrastruktur / Nasional

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:16 WIB

Hutama Karya Perkuat Integrasi Transportasi Pusat Kota Melalui Pembangunan Stasiun Bawah Tanah Glodok-Kota MRT Jakarta

Hutama Karya Perkuat Integrasi Transportasi Pusat Kota Melalui Pembangunan Stasiun Bawah Tanah Glodok-Kota MRT Jakarta 


JAKARTA
– Di Glodok dan Kota, ruang bergerak terbatas, aktivitas ekonomi berjalan sejak pagi, dan arus pejalan kaki tidak pernah benar-benar putus. Di tengah kepadatan itu, PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) menjalankan pembangunan Stasiun Bawah Tanah Glodok–Kota MRT Jakarta, sebuah penghubung mobilitas yang diproyeksikan memperkuat konektivitas kawasan Kota Tua sekaligus memperluas pilihan transportasi publik yang lebih tertib bagi warga.

Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan MRT Jakarta Fase 2A dengan panjang koridor sekitar 1,33 km. Pada paket ini, ruas pekerjaan menghubungkan Stasiun MRT Mangga Besar dan Stasiun MRT Jakarta Kota. Pembangunan di area pusat kota yang padat ini dirancang untuk memperkuat integrasi antarmoda serta meningkatkan kenyamanan perpindahan moda, terutama melalui penataan akses pejalan kaki, koneksi menuju layanan transportasi lain di sekitar kawasan, dan peningkatan kualitas ruang publik.

Baca Juga  Kunjungan Kerja Pangdam II Sriwijaya ke Kodim 0415 Jambi Disambut Dandim Letkol Arm Eko Pristiono

Di balik pembangunan stasiun ini, ada kolaborasi lintas pihak yang memastikan pekerjaan berjalan rapi di kawasan pusat kota. Hutama Karya mengerjakan paket CP 203 bersama mitra asal Jepang, Sumitomo Mitsui Construction Company (SMCC), melalui skema joint operation (SMCC–HK JO), dengan PT MRT Jakarta (Perseroda) sebagai penyelenggara proyek.

Bagi masyarakat, keberadaan stasiun bukan hanya soal bangunan baru, melainkan soal cara kota memberi ruang bagi warganya untuk bergerak lebih efisien. Ketika transportasi publik terhubung dengan baik, waktu tempuh menjadi lebih terprediksi, kepadatan lalu lintas berkurang, dan kawasan-kawasan dengan aktivitas tinggi dapat tumbuh lebih tertata. Dalam konteks Glodok–Kota, konektivitas yang lebih kuat juga diharapkan mendukung pergerakan menuju destinasi wisata, pusat kuliner, dan area perdagangan tanpa menambah beban kemacetan di titik-titik yang selama ini padat.

Baca Juga  Disiplin Finansial Berbuah Hasil, Hutama Karya Lampaui Target Laba Di Awal 2026

Integrasi antarmoda menjadi bagian penting dari cerita ini. Pusat kota Jakarta memiliki simpul-simpul transportasi yang saling berdekatan, namun pengalaman berpindah moda sering kali ditentukan oleh detail akses pejalan kaki, koneksi menuju halte atau stasiun lain, serta kenyamanan ruang publik di sekitarnya. Karena itu, pembangunan stasiun bawah tanah perlu dirancang dengan perspektif pengguna, agar perpindahan dari satu moda ke moda lain terasa mulus dan aman, terutama pada jam-jam sibuk.

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan bahwa pekerjaan stasiun bawah tanah ini menunjukkan progres yang signifikan dengan target penyelesaian pekerjaan pada semester I 2027. “Hingga Rabu (28/1) kami mencatatkan progres 82%. Sejumlah pekerjaan yang tengah dilakukan pekerjaan struktur entrance, pekerjaaan arsitek dan mep stasiun. Kehadirannya nanti akan memberi manfaat nyata bagi mobilitas warga dan penataan transportasi publik perkotaan,” ujarnya.

Baca Juga  Selama Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, Hutama Karya Catat Lebih dari 600 Ribu Kendaraan Melintas di JTTS

Dalam pekerjaan perkotaan, Hutama Karya memandang pengendalian dampak sebagai bagian dari tanggung jawab bekerja di kawasan yang hidup. Keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari struktur yang berdiri, tetapi juga dari bagaimana pekerjaan berlangsung tanpa memutus akses warga, tanpa mengganggu kegiatan ekonomi secara berlebihan, serta tanpa mengurangi rasa aman publik. Prinsip ini menjadi rujukan pelaksanaan di lapangan, termasuk dalam penyampaian informasi kepada masyarakat sekitar apabila terdapat penyesuaian akses di area tertentu selama masa konstruksi.

Pembangunan transportasi publik pada akhirnya berhubungan langsung dengan kualitas hidup. Kota yang menyediakan pilihan mobilitas yang andal memberi ruang bagi warganya untuk mengelola waktu lebih baik, mengurangi biaya perjalanan, serta memperluas kesempatan kerja dan akses layanan. Di Jakarta, kebutuhan tersebut kian relevan seiring pertumbuhan aktivitas pusat kota yang menuntut sistem angkutan massal yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Share :

Baca Juga

Berita

Berjudul Sayap-Sayap Patah 2, Kapolda Jambi : Film yang Menggugah Empati dan Kesadaran Terhadap Tugas Polisi

Berita

Berbagi Kebaikan di Bulan Ramadhan, Spripim Polda Jambi Bagikan Takjil kepada Para Pengendara dan Masyarakat

Berita

Dibuka Wagub, KBO Polairud Hadiri Undangan Harlah NU ke 102 Sekaligus Peringatan Isra Mi’raj

Berita

Hak Terpenuhi Kewajiban Dilaksanakan, Kalapas Berikan Sosialisasi Kepada Seluruh Tahanan dan Palkam

Berita

Tembang Pembuka Tari KDI di Kampanye Akbar HTK-Ezi Menghipnotis Massa

Berita

Honda Jambi Hadirkan Promo Lebaran Nusantara 2026 Hemat hingga Rp3,5 Juta, Saatnya Bawa Pulang Motor Baru

Berita

Polda Jambi Himbau Hentikan Kekerasan di Sekolah, Pasca Viral Insiden di SMK Negeri 3 Tanjab Timur

Berita

Yonif 142/KJ Turun Langsung Padamkan Karhutla, Sinergi TNI-Polri, BNPB dan Masyarakat Perkuat Penanganan Api